Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sajak

Sebelum Sendiri - M Aan Mansyur

Gambar
cara mencintai kau yang paling aku suka: kau tidak mencintaiku. ada lebih banyak perihal penting untuk tidak kukejar dan kukerjakan. tinggal atau tinggalkan rumah. jalan jauh dan jatuh hati—dan lari dari segala yang mesti dan pasti. setiap hari dan aku menjadi sendiri. seperti daun lepas dari dahan menimpa bayangan sendiri di permukaan air. aku juga mencintai diriku— tetapi siapa aku? Bisa di dapatkan di https://www.bukuindie.com/p/sebelum-sendiri/ M Aan Mansyur - Sebelum Sendiri

Dunia di antara Aku dan Diriku

Gambar
Aku bertemu malam saat berjalan tertunduk tanpa arah tujuan. Menuruti langkah kaki yang juga tak berjejak di belakang. Rembulan pun terus mengawasi dari balik dedaunan yang berayun. Meski hanya bulan sabit namun sinarnya hampir seterang sore hari menjelang senja. Arah langkah kaki ini benar-benar tak teratur. Mengikuti bisikan-bisikan yang berebut perhatian daun telingaku. Bisikan-bisikan yang kadang hanya pelan namun juga bisa begitu keras mengalahkan suara pijakkan kaki. Bisingnya bisa melebihi teriakan kernet bus di terminal kota-kota besar. Aku belum membuka mata meski telah berjalan dua kali mengitari dunia. Tak perlu heran. Duniaku hanya kecil. Hanya sepanjang harapan dan sejauh doa. Isinya pun tak banyak. Tak sepadat bumi manusia pada umumnya. Duniaku hanya berisi dua kata, ketakutan dan keberanian. Tetapi ada celah di antara keduanya. Itulah jalan yang sering ku lalui. Jalan yang sama juga yang tengah ku arungi malam ini. Di duniaku ini juga ada yang berbeda un...

Puisi : Percakapan dalam Hujan

Gambar
Di luar sana langit tak lagi berwarna Awan tak lagi jauh di atas sana Ia turun menyambangi atap-atap Memaksakan dingin menguasai kota Di dalam sini aku terduduk tenang Aku biarkan suara gitar banjiri benakku Hawa dingin juga ku rasakan menjerat Bekukan mulutku yang tak mampu berkata Ternyata hujan t'lah tiba sayang Ia tak mengetuk dan permisi Tiba-tiba rintiknya samarkan tangisku Hujan merenggut senja kita yang jingga, sayang Tahukah sayang, aku benci hujan kali ini Karena ia tak mampu basahi hatiku Hati ini tetap kering di bawah guyurnya Ia juga berbisik mengejek tangisku Jika malam nanti hujan ini tak juga reda Kan ku simpan semua awan dan kabut dalam paru-paruku Agar esok datang hari baru yang biru Dan kan ku bayangkan di sana ada senyummu Matheus Aribowo Salatiga, 18 Juli 2017

51 yang (Ber)lalu

Gambar
51 bulan setelah tanggal 29 februari tahun 2012. Di malam yang katanya adalah malam dimana planet Mars bersinar paling terang selama 10 tahun ini. Ada dua hati yang begitu murung dan redup. Mungkin karena sinarnya dipinjam Mars malam ini. Dua hati yang duduk termenung, menilik kembali jauh ke dalam rongga-rongga yang terlalu lama terlewati. Mengenang kembali 51 bulan yang lalu. 51 bulan panjang yang terasa begitu pendek. Terasa singkat namun menaungi ratusan cerita hari-hari dalam suka, duka dan cinta. Riangmu tergambar dalam satu kedipan. Sedihmu terdengar dalam satu tarikan nafas malam ini. Hembusan nafasku masih mengisyaratkan keinginan untuk melengkapi satu sama lain. Tapi ini badai, badai yang tak terelakkan. Badai yang tak cukup kuat untuk kita mampu bertahan. Bahkan sekedar berpegang tangan pun kini kita tak mampu. Badai mengapa datang saat kakiku begitu lemah tuk berpijak. Badai datang justru di tengah damainya angin semilir kian kemari. Saat rindu beradu dengan jarak dan w...