Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Pendek

Orang-Orang yang Keluar di Pagi Hari #1

Gambar
Punggung dedaunan masih basah oleh embun pagi. Saat ia berjalan pelan sembari membelai beberapa ranting yang sedikit menjulang ke jalan setapak. Matahari belum juga muncul, padahal ia telah berjalan melewati sebuah bukit. Nafasnya masih biasa saja meski jalan menanjak tengah dilaluinya. Beban bakul yang ia ikat dengan selendang di pinggang pun tak membuatnya terengah. Setiap pagi ia selalu seperti ini, beban-beban itu telah menjadi sahabatnya. Hening pagi adalah kawan terbaiknya. Suara aliran sungai. Kicau burung-burung liar nan merdu. Serta nada sumbang dari nafasnya sendiri, menghiburnya setiap kali lelah menghampiri langkahnya. Belum lagi sapaan embun pagi, juga hembusan udara segar pagi hari. Semua itu dinikmatinya setiap pagi tanpa rasa bosan.  Bakul berisi sayur di punggungnya adalah bahan sarapan pagi untuk sebuah panti jompo di pinggiran kota. Ia setiap pagi berjalan lebih dari 10km untuk bakul itu. Bukan upah yang ia terima yang membuatnya setia melakukannya. ...

Cerpen : Aksa & Alana

Gambar
Aku menutup mata. Mencoba merasakan suatu kehadiran tanpa melihatnya. Katamu, kau selalu datang bersama angin yang mengalir lembut di bawah telingaku. Menyibak lembut rambut hitamku yang ku biarkan terurai. Jika angin yang hadir ini adalah wujud rindumu, aku percaya kau tengah tersenyum kali ini.  Aku membuka mata dan langit berubah jingga. Warna keemasan berpendar tak tentu arah. Menerobos kawanan awan yang berjalan pelan. Aku tahu benar, hadirmu telah terganti emasnya langit. Damaiku dulu ialah saat ku buka mata dan ku lihat matamu menjatuhkan pandang kepada mataku. Damaiku kini ialah ketika ku buka mata dan ku lihat senja kesukaanmu bersiap pergi tidur. Setelahnya bibirku kan berucap, sampai jumpa esok. Aku belum memulai lembar baru dalam buku kehidupanku. Tetapi aku juga tak berhenti di jurang masa lalu. Hanya saja aku terus berjalan tanpa menuliskannya lagi. Aku mencintaimu, aku juga mencintai kepergianmu. Seperti aku mencintai hari yang cerah, aku juga mencintai ...

Orang-Orang yang Keluar di Waktu Malam #1

Gambar
Baju sudah hitam. Dipakaikannya lagi jaket hitam. Lalu celana pendek hitam turut menghias tubuhnya. Sebelum keluar, ia sambar topi hitam. Sambil berjalan keluar dengan sepasang sandal hitam, ia kenakan topi hitam itu. Sempurna, kini seluruh tubuhnya hitam. Kulitnya memang sejak kecil hitam. Bukan, ia bukan orang berkulit hitam. Kulitnya hitam karena ia suka bermain layang-layang di masa kecil. Kini ia telah beranjak tua. Rambutnya tak lagi hitam sempurna. Giginya pun telah hitam di beberapa bagian. Meski matanya masih hitam. Namun sorotnya telah pudar terkikis jaman. Setiap malam di bawah langit yang hitam, ia duduk di tikungan jalan beraspal hitam. Menghitung mobil yang lalu lalang. Tak semua mobil ia hitung, hanya mobil yang berwarna hitam. Jika ia lihat ada yang juga berkaca hitam, menangislah ia. Namanya Pak Itam. Kata penjual nasgor di dekat Pak Itam biasa menghitung mobil hitam dengan jarinya. Jari yang juga berkuku hitam. Pak Itam sekarang tinggal seorang diri. Anak...

Dunia di antara Aku dan Diriku

Gambar
Aku bertemu malam saat berjalan tertunduk tanpa arah tujuan. Menuruti langkah kaki yang juga tak berjejak di belakang. Rembulan pun terus mengawasi dari balik dedaunan yang berayun. Meski hanya bulan sabit namun sinarnya hampir seterang sore hari menjelang senja. Arah langkah kaki ini benar-benar tak teratur. Mengikuti bisikan-bisikan yang berebut perhatian daun telingaku. Bisikan-bisikan yang kadang hanya pelan namun juga bisa begitu keras mengalahkan suara pijakkan kaki. Bisingnya bisa melebihi teriakan kernet bus di terminal kota-kota besar. Aku belum membuka mata meski telah berjalan dua kali mengitari dunia. Tak perlu heran. Duniaku hanya kecil. Hanya sepanjang harapan dan sejauh doa. Isinya pun tak banyak. Tak sepadat bumi manusia pada umumnya. Duniaku hanya berisi dua kata, ketakutan dan keberanian. Tetapi ada celah di antara keduanya. Itulah jalan yang sering ku lalui. Jalan yang sama juga yang tengah ku arungi malam ini. Di duniaku ini juga ada yang berbeda un...

Cerpen : Tangis Rudi

Gambar
"Ia hanya berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Di bawah jingganya langit kala itu, aku melompat dari lantai 11 sebuah apartemen di Kota Semarang."  Sore yang tenang menjadi begitu riuh seketika. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang berkerumun menyaksikan seonggok mayat perempuan hancur di depan halaman apartemen. Tak ada yang berani melakukan sesuatu pada mayat itu, selain hanya menutupnya dengan kain seadanya. Terdengar bisik-bisik diantara kerumunan itu, orang-orang mulai menebak-nebak siapa dan apa alasan perempuan itu melompat dari atas apartemen.  Beberapa orang beranggapan perempuan itu melompat karena patah hati atau dikhianati kekasihnya. Ada juga yang berpendapat karena mabuk, pengaruh minuman keras. Ada juga yang menyangka didorong seseorang karena sebelumnya ada yang melihatnya cek-cok dengan seseorang di loby apartemen. Seakan prediksi mereka tak kunjung di klarifikasi oleh siapapun, meraka satu persatu mulai pergi dari sana. Bersamaan dengan datang...

Sketsa : Bintang yang Bersembunyi

Gambar
Ini menjadi malam yang begitu dingin di akhir musim kemarau. Langit di luar sana kelabu pekat. Tak ada bintang tampak satu pun. Semua berada di persembunyiannya. Jalanan sunyi sepi, tak ada yang lalu lalang atau sekadar melintas. Seorang gadis berambut hitam panjang nan berkilau, duduk di atas meja. Ia menghadap jendela yang tertutup. Dalam kamar yang gelap tanpa nyala lampu. Cahaya lampu jalanan mengintip dari celah-celah jendela. Membentuk kotak bergaris-garis berwarna kuning. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana, dengan tatapan kosong ke arah jendela. Sambil sesekali menunduk seperti berdoa. Ketika jarum jam dinding mulai merayap mendekati angka 2, ia mengatakan sesuatu dengan perlahan. “Terkadang aku ingin melihat masa depanku, tapi tak bisa.” “Apakah aku hanya akan hidup dengan cara; lahir, sekolah, kuliah, lulus lalu bekerja, setalah itu menikah, memiliki kerluarga, menjadi tua dan kembali menjadi debu?” Ia kembali menatap jendela itu dalam tatapan kosongnya ...

Cerpen : Percakapan dalam Hujan

Gambar
Aku baru saja masuk ke sebuah kedai kopi, ketika ku sadari gawai dan komputer jinjingku tertinggal di meja kantor. Mungkin karena terlalu terburu-buru pergi sebelum hujan datang. Karena di luar sana langit telah membawa teror yang luar biasa mengerikan bagi pejalan kaki yang lupa membawa payung. Bahkan juga kepada pengendara sepeda motor yang juga lupa jas hujannya. Di sepanjang perjalanan dari kantor juga orang-orang mempercepat langkahnya. Beberapa pedagang kaki lima mulai berkemas tergesa. Jalanan seketika padat, dan tersendat di beberapa titik jalan. Suara bising klakson menggema di hampir semua jalanan kota. Segalanya begitu cepat berubah, tawa riang bahagia bisa dengan segera berubah menjadi tangis duka yang dalam. Tetapi bukankah memang begitu indahnya. Hidup dengan kejutan-kejutan yang tak pernah kita tahu. Meja kosong dekat jendela kaca yang luas menjadi singgasanaku sore ini. Tempat yang strategis. Dari sini aku bisa menyaksikan riuhnya jalanan tanpa suara bisingn...

Cerpen : Katamu Aku Anakmu

“Ranti, ranti…” terdengar suara lembut memanggil namaku. Diiringi beberapa tangis teman-temanku. Mobil mulai berjalan dan semua menjadi sunyi. Bau asap, hawa panas dan pengap. Suara klakson dan knalpot berebut tempat di telingaku. Mobil masih terus berjalan. Sepertinya menuju tempat yang asing. Sepanjang jalan tak ada perbincangan. Hanya beberapa kali terdengar siul yang ku yakin nadanya ngawur tak jelas referensinya. Mungkin sekedar untuk memecah kesunyian. Orang dewasa memang aneh, mereka suka bersandiwara. Suka sekali bermain-main ekspresi yang berbeda dengan yang dirasa. Berbeda dengan anak-anak yang bermain ekspresi sesuai apa yang ia rasa. Mengalir begitu saja seperti tanpa perintah atau komando. Senyum di dalam senyum, tangis di dalam tangis. Tetapi tidak dengan orang dewasa. Sering ada tangis di dalam tawa, juga sebaliknya. Mobil berhenti setelah beberapa kali seperti menginjak polisi tidur. Polisi seperti apakah mereka ini, yang rela diinjak. Tetapi yang ku dengar polisi ...