Postingan

Menampilkan postingan dengan label Monolog

Diambil dari : Suar Aksara - Sudah Saatnya (Bandung)

Gambar
Deru Jengah Nafas Arah Ada kalanya kita harus menepi dari segala rutinitas Meraih kembali makna bebas Menemukan diri kita pada titik dalam detik tanpa batas Sebab di antara semua penat akan selalu ada yang melintas Tawa kecil di waktu lalu Suap demi suap masakan ibu Juga rentetan senyum yang membuat kita tertunduk malu Waktu berubah, rindu melangkah, usia bertambah, begitu pula kisah Cinta Luka Tangis Tawa, bergantian mendaur ulang rasa Kita terjebak dalam gerak tanpa jejak Dan hati kita sampai pada pertanyaan, mau sampai kapan? Pada akhirnya kita harus berhenti mengenang dan mulai bertualang Meraih kembali makna pulang Membawa diri kita Pada rela atas semua yang hilang dan seluruh yang datang Percaya, yang terlepas akan berganti, yang bertahan akan abadi Karena raga bisa berpindah Namun hati akan selalu menetap Sudah saatnya pergi, hati kita layak dicintai Dipublikasikan tanggal 16 Jul 2017 (youtube) Suar Aksara ...

Sambi Lalu

Gambar
"Mengapa kau suka Salatiga dan Bandung?" Karena Salatiga menyediakan semua hal yang membuatmu terus hidup dalam hari-hariku. Meski kau jauh dan tak lagi di sini. Semua tentangmu masih rapi tersimpan di setiap sudut kota ini. Setiap sudut kota dan tak ada yang terlewatkan. Pernah aku tiba di sebuah persimpangan jalan, aku terhenti dan melihat kita bergandengan tangan di pedestrian. Lalu di sebuah kedai teh. Secangkir teh di cangkir berwarna putih polos yang kupesan, memantulkan wajahmu. Tersenyum kepadaku. Di siang yang terik aku berjalan menyeberang keramaian kota. Sampai pada sebuah toko pernak-pernik, dan aku melihatmu memilih benang berwarna-warni. Terlihat kau menimang-nimang benang-benang itu dan bertanya padaku. Benang berwarna apa yang hendak kau bawa pulang. Aku hanya tersenyum. Dan disebuah hari hujan ditengah musim kemarau. Sengaja ku tenggelamkan diriku pada rintik-rintik hujan. Aku ingat, rintik-rintik hujan di kota ini selalu membawa kehangatan dan pesan...

"Kita t'lah sampai di titik ini, ..."

Gambar
"Kita t'lah sampai di titik ini, ..." kataku pada mulutku. Lihatlah, semua hal t'lah berubah. Tidak, mereka tidak benar-benar berubah. Hanya saja waktu menuntunku ke sudut lain dari ruang kehidupan ini. Hawa yang ku rasakan pun kini berbeda, tak sehangat kala ku duduk di ruang keluarga dan bercengkerama. Pintu yang terbuka mengajak angin membasuh wajahku yang masih terdiam menatap dedaunan melambai di halaman rumahku. “Mengapa kau diam saja? Bukankah sekarang saatnya kita pergi?” Kataku pada bibirku. Ia tak mampu lagi berucap, seakan terik mentari membungkamnya. “Kita t’lah sampai di titik ini, ...” itu yang bibirku ucapkan padaku saat kakiku mulai bergerak perlahan. Betapa ruangan ini menahan kakiku erat, memaksa mataku berkeliling melirik setiap potret cerita yang terbingkai rapi di dindingnya. “Apa yang kau lihat?” kata bibirku pada mataku. Sementara telingaku sibuk mencari sumber suara dari percakapan seru yang ia dengarkan sejak tadi. “Apa yang ...

Dialog atau Monolog

13/03/2015 Tak yakin ini pagi hari, saat mata terbuka binatang malam masih bersuara. Tak mau menebak apapun, mata ku pejamkan lagi. Mencoba menyambung mimpi yang terhenti terhalang sunyi. Kau masih berdiri disana saat ku kembali. Kau menatapku seakan aku orang asing yang tersesat dalam pandanganmu. Tatapanmu menelanjangiku ditempatku berdiri. Bibirmu tak berucap apapun, tetapi matamu mengatakan seribu bahasa yang tak pernah ku dengar sebelumnya. Maaf bila ku salah menebak, ku kira kau berdialog dengan dirimu tentang siapa aku. Aku yang datang kedua kali tanpa menyapamu. Detik seakan terlalu cepat, kini matahari berdiri diatas kita berdua. Kau masih diam, tanpa ampun menjeratku dengan tatapanmu. Bibirku beku, tak satupun kata berani melompat dari kebekuan ini. Apalagi beranjak, bergeser barang 1 cm pun kakiku tak berani. Kini ku sadar, tak hanya tatapanmu yang menjeratku. Ketakutanku menikamku, tak mengijinkanku memandang kesisi terang dibalik pohon layu itu. Kicauan bu...