Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Cerpen : Aksa & Alana

Gambar
Aku menutup mata. Mencoba merasakan suatu kehadiran tanpa melihatnya. Katamu, kau selalu datang bersama angin yang mengalir lembut di bawah telingaku. Menyibak lembut rambut hitamku yang ku biarkan terurai. Jika angin yang hadir ini adalah wujud rindumu, aku percaya kau tengah tersenyum kali ini.  Aku membuka mata dan langit berubah jingga. Warna keemasan berpendar tak tentu arah. Menerobos kawanan awan yang berjalan pelan. Aku tahu benar, hadirmu telah terganti emasnya langit. Damaiku dulu ialah saat ku buka mata dan ku lihat matamu menjatuhkan pandang kepada mataku. Damaiku kini ialah ketika ku buka mata dan ku lihat senja kesukaanmu bersiap pergi tidur. Setelahnya bibirku kan berucap, sampai jumpa esok. Aku belum memulai lembar baru dalam buku kehidupanku. Tetapi aku juga tak berhenti di jurang masa lalu. Hanya saja aku terus berjalan tanpa menuliskannya lagi. Aku mencintaimu, aku juga mencintai kepergianmu. Seperti aku mencintai hari yang cerah, aku juga mencintai ...

Sebelum Sendiri - M Aan Mansyur

Gambar
cara mencintai kau yang paling aku suka: kau tidak mencintaiku. ada lebih banyak perihal penting untuk tidak kukejar dan kukerjakan. tinggal atau tinggalkan rumah. jalan jauh dan jatuh hati—dan lari dari segala yang mesti dan pasti. setiap hari dan aku menjadi sendiri. seperti daun lepas dari dahan menimpa bayangan sendiri di permukaan air. aku juga mencintai diriku— tetapi siapa aku? Bisa di dapatkan di https://www.bukuindie.com/p/sebelum-sendiri/ M Aan Mansyur - Sebelum Sendiri

Puisi : Kamus Kecil - Joko Pinurbo

Gambar
Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu Walau kadang rumit dan membingungkan Ia mengajari saya cara mengarang ilmu Sehingga saya tahu Bahwa sumber segala kisah adalah kasih Bahwa ingin berawal dari angan Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba Bahwa segala yang baik akan berbiak Bahwa orang ramah tidak mudah marah Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih Bahwa seorang bintang harus tahan banting Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila Bahwa orang putus asa suka memanggil asu Bahwa lidah memang pandai berdalih Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman Bahasa Indonesiaku yang gundah Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat Ketika induk kalimat bilang p...

Dunia di antara Aku dan Diriku

Gambar
Aku bertemu malam saat berjalan tertunduk tanpa arah tujuan. Menuruti langkah kaki yang juga tak berjejak di belakang. Rembulan pun terus mengawasi dari balik dedaunan yang berayun. Meski hanya bulan sabit namun sinarnya hampir seterang sore hari menjelang senja. Arah langkah kaki ini benar-benar tak teratur. Mengikuti bisikan-bisikan yang berebut perhatian daun telingaku. Bisikan-bisikan yang kadang hanya pelan namun juga bisa begitu keras mengalahkan suara pijakkan kaki. Bisingnya bisa melebihi teriakan kernet bus di terminal kota-kota besar. Aku belum membuka mata meski telah berjalan dua kali mengitari dunia. Tak perlu heran. Duniaku hanya kecil. Hanya sepanjang harapan dan sejauh doa. Isinya pun tak banyak. Tak sepadat bumi manusia pada umumnya. Duniaku hanya berisi dua kata, ketakutan dan keberanian. Tetapi ada celah di antara keduanya. Itulah jalan yang sering ku lalui. Jalan yang sama juga yang tengah ku arungi malam ini. Di duniaku ini juga ada yang berbeda un...

Diambil dari : Suar Aksara - Sudah Saatnya (Bandung)

Gambar
Deru Jengah Nafas Arah Ada kalanya kita harus menepi dari segala rutinitas Meraih kembali makna bebas Menemukan diri kita pada titik dalam detik tanpa batas Sebab di antara semua penat akan selalu ada yang melintas Tawa kecil di waktu lalu Suap demi suap masakan ibu Juga rentetan senyum yang membuat kita tertunduk malu Waktu berubah, rindu melangkah, usia bertambah, begitu pula kisah Cinta Luka Tangis Tawa, bergantian mendaur ulang rasa Kita terjebak dalam gerak tanpa jejak Dan hati kita sampai pada pertanyaan, mau sampai kapan? Pada akhirnya kita harus berhenti mengenang dan mulai bertualang Meraih kembali makna pulang Membawa diri kita Pada rela atas semua yang hilang dan seluruh yang datang Percaya, yang terlepas akan berganti, yang bertahan akan abadi Karena raga bisa berpindah Namun hati akan selalu menetap Sudah saatnya pergi, hati kita layak dicintai Dipublikasikan tanggal 16 Jul 2017 (youtube) Suar Aksara ...

Sajak Bebas : Mengenal Siapa Aku

Gambar
Aku ingin menyaksikan diriku duduk di teras rumah bersama secangkir teh hangat Menyaksikan senja yang tak pernah tenggelam si tepi langit Jingganya terus saja berpendar ke ujung langit Keemasan warnanya melunturkan warna langit yang katanya biru Aku ingin hanyut dalam sunyinya senja bersama sebuah buku Dan direngkuh keemasan cahaya senja yang tak pernah terbenam Dalam sunyi ada kesedihan yang datang dari dalam diriku Dalam kesedihan aku mengenal siapa aku Seutuhnya aku, yang telanjang tanpa tipu daya dan persona Aku selalu suka kesedihan, kesedihan yang tak pernah berusaha ku tinggalkan Kesedihan yang memang lahir bersamaku dari rahim yang sama Itulah aku, selalu percaya bahwa setiap manusia terlahir bersama kesedihan Tangis yang meledak segera saat melihat dunia adalah buktinya Itulah sejatinya kejujuran, telanjang dan bersuara lantang seperti tangisan Tetapi manusia memang durhaka Mereka tak pernah bertindak syukur atas yang ada dalam diri mereka Termasuk juga kese...

P U I S I : Menatap

Gambar
Ada mata yang tak mampu menatap Hanya mulut menyesap secangkir ratap Tak lagi ada pejam kala malam menyergap Angan sesak membayang dalam gelap Di sela malam ada getar kaki menanti pagi Acuhkan bulan yang warnanya pucat pasi Jika saja senja dapat kuulang kembali Ijinkan kukecup keningmu sebelum pergi Matheus Aribowo Salatiga, 13 Agustus 2017

Sajak Bebas : Lukisan di Selaput Mata

Gambar
Masihkah kau ingat, aku suka melukis? Sudah lama aku meninggalkannya. Telah lama aku tak berbincang jujur dengan hatiku yang kau bawa pergi. Maka takkan ada lukisan yang kan tergambar, sebelum kau kembalikan hatiku yang kau tawan. Kecuali malam ini, aku melukis lagi. Melukis senyummu di tengah gelapnya malam. Menggoreskan garis-garis tipis yang menghubungkan bintang-bintang paling terang di alam raya sana. Tetapi kau tahu? Lukisanku akan lenyap esok pagi. Sepanjang siang aku akan menanti-nantikan malam yang cerah tanpa awan. Jika malam datang bersama kabut apalagi hujan, aku takkan bisa melukis lagi. Hanya duduk termenung, berdoa agar waktu segera berlari membawa kembali malam penuh bintang.  Jika dahulu aku melukis dengan warna-warna, maka kini lukisanku hanya hitam dan putih. Karena warnanya t'lah pergi. Terselip dalam lipatan-lipatan rindu yang kau tumpuk rapi di hati. Jika dahulu lukisanku bisa di abadikan dalam sebuah bingkai di kamarmu. Kini lukisanku aba...

Sambi Lalu

Gambar
"Mengapa kau suka Salatiga dan Bandung?" Karena Salatiga menyediakan semua hal yang membuatmu terus hidup dalam hari-hariku. Meski kau jauh dan tak lagi di sini. Semua tentangmu masih rapi tersimpan di setiap sudut kota ini. Setiap sudut kota dan tak ada yang terlewatkan. Pernah aku tiba di sebuah persimpangan jalan, aku terhenti dan melihat kita bergandengan tangan di pedestrian. Lalu di sebuah kedai teh. Secangkir teh di cangkir berwarna putih polos yang kupesan, memantulkan wajahmu. Tersenyum kepadaku. Di siang yang terik aku berjalan menyeberang keramaian kota. Sampai pada sebuah toko pernak-pernik, dan aku melihatmu memilih benang berwarna-warni. Terlihat kau menimang-nimang benang-benang itu dan bertanya padaku. Benang berwarna apa yang hendak kau bawa pulang. Aku hanya tersenyum. Dan disebuah hari hujan ditengah musim kemarau. Sengaja ku tenggelamkan diriku pada rintik-rintik hujan. Aku ingat, rintik-rintik hujan di kota ini selalu membawa kehangatan dan pesan...

Puisi : PER ( H E N T I ) AN

Seketika segalanya berhenti termangu Menyaksikan namamu menguap dari kepalaku Telingaku pun kini begitu pemalu memilih lagu Tak mau ia dengar lantunan lagu-lagu sendu Takkan rela membiarkan ada yang remuk pilu Ragaku masih segar menetap hari-hari esok Namun langkah ini perlahan tapi pasti mulai terseok Ku pahami harus ada yang pergi dan berganti Namun pikiranku tak mampu menahan hati tuk henti Kau, masih satu-satunya yang ku tunggu senyum dan sapamu Di saat yang sama, kau juga satu-satunya yang tak ku inginkan bertemu Di saat yang sama pula ruang rinduku menyerah pada pelukmu Sedang logika di kepalaku berperang melawan hadirmu Matheus Aribowo Salatiga, 26 Juli 2017

Puisi : K I T A

Gambar
Aku pernah memintamu dengan sederhana Melalui doa lirih yang ku senandungkan kepada-Nya Tuhan pernah memberimu dengan sederhana Wujud doamu yang ternyata kita ucapkan bersama Aku pernah bersamamu dengan sederhana Melewati hari-hari yang penuh senyum dan tawa Hari-hari pernah menyatukan kita dengan sederhana Wujud cinta yang menggaung indah melampaui semesta Aku pernah kehilanganmu dengan sederhana Dalam kata-kata yang tak pernah terangkai sebelumnya Aku pernah menangisimu dengan sederhana Karena nafas dan detak jantung ini tak lagi seirama Aku pernah merindukanmu dengan sederhana Dari lagu-laguku yang tak memiliki nada Aku pernah ingin melupakanmu dengan sederhana Karena tak mampu lagi berharap akan adanya KITA Matheus Aribowo 17 Juli 2017