Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kehidupan

Cerpen : Tangis Rudi

Gambar
"Ia hanya berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Di bawah jingganya langit kala itu, aku melompat dari lantai 11 sebuah apartemen di Kota Semarang."  Sore yang tenang menjadi begitu riuh seketika. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang berkerumun menyaksikan seonggok mayat perempuan hancur di depan halaman apartemen. Tak ada yang berani melakukan sesuatu pada mayat itu, selain hanya menutupnya dengan kain seadanya. Terdengar bisik-bisik diantara kerumunan itu, orang-orang mulai menebak-nebak siapa dan apa alasan perempuan itu melompat dari atas apartemen.  Beberapa orang beranggapan perempuan itu melompat karena patah hati atau dikhianati kekasihnya. Ada juga yang berpendapat karena mabuk, pengaruh minuman keras. Ada juga yang menyangka didorong seseorang karena sebelumnya ada yang melihatnya cek-cok dengan seseorang di loby apartemen. Seakan prediksi mereka tak kunjung di klarifikasi oleh siapapun, meraka satu persatu mulai pergi dari sana. Bersamaan dengan datang...

"Kita t'lah sampai di titik ini, ..."

Gambar
"Kita t'lah sampai di titik ini, ..." kataku pada mulutku. Lihatlah, semua hal t'lah berubah. Tidak, mereka tidak benar-benar berubah. Hanya saja waktu menuntunku ke sudut lain dari ruang kehidupan ini. Hawa yang ku rasakan pun kini berbeda, tak sehangat kala ku duduk di ruang keluarga dan bercengkerama. Pintu yang terbuka mengajak angin membasuh wajahku yang masih terdiam menatap dedaunan melambai di halaman rumahku. “Mengapa kau diam saja? Bukankah sekarang saatnya kita pergi?” Kataku pada bibirku. Ia tak mampu lagi berucap, seakan terik mentari membungkamnya. “Kita t’lah sampai di titik ini, ...” itu yang bibirku ucapkan padaku saat kakiku mulai bergerak perlahan. Betapa ruangan ini menahan kakiku erat, memaksa mataku berkeliling melirik setiap potret cerita yang terbingkai rapi di dindingnya. “Apa yang kau lihat?” kata bibirku pada mataku. Sementara telingaku sibuk mencari sumber suara dari percakapan seru yang ia dengarkan sejak tadi. “Apa yang ...

Derap Masa

Gambar
Tawa itu, amarah itu, kekecewaan itu, kebersamaan itu, keceriaan itu, semua menguap di tengah malam yang bisu. Sepasang mata masih terbuka dengan kepala yang mencoba menerawang masuk menjejakkan kaki di jalan yang t’lah dilewati sebelumnya. Jalan penuh rasa, jalan berkerikil suka berselang duka. Sebuah cerita tentang manusia yang bercerita tentang masa-masa terindah dalam hidupnya. Masa yang belum berganti, namun semua berada di ujung bibir dan segera terucap menjadi kata yang berlalu begitu saja. Setiap manusia memiliki masa dimana hidupnya terasa begitu bersemangat, begitu hidup walau kesusahan tak putusnya datang. Walau tak selamanya langit biru cerah, walau tak selalu hujan turun segarkan bumi. Juga dengan masa dimana keceriaan bukan ukuran kebahagiaan, tawa bukan simbol hati nan bersuka. Hidup begitu rumit dengan tawa dan tangis palsunya. Tak ada rencana untuk sebuah kebahagiaan, tak ada penyesalan untuk kebahagiaan. Tak ada yang mengundang duka, namun tak berdaya mengusir ji...

Bola Tenis, Kelereng atau Pasir + Kopi

Gambar
Cerita singkat yang inspiratif dan menarik ini diambil dari Group FB : https://www.facebook.com/MemeAndRageComicIndonesia/photos/a.227654487356996.48210.227481340707644/1015229431932827/?type=3&fref=nf Seorang guru besar di depan audiens nya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yg bening & besar di atas meja. * Lalu sang guru mengisinya dengan bola t enis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?" * Audiens menjawab: "Sudah penuh". * Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya & memasukkan nya ke dlm topless tadi. Kelereng mengisi sela2 bola tenis hingga tdk muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?" * Audiens menjawab: "Sudah penuh". * Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai & memasukkan nya ke dlm topless yg sama. Pasir pun mengisi sela2 bola & kelereng hingga tdk bisa muat lagi. Semua sepakat kalau topless sdh penuh & tdk ada yg bisa dimasukkan lg ke dalamnya. * ...

Cinta Dan Semesta

Gambar
Saat itu malam menjeratku erat. Aku tak dibiarkannya jatuh dalam ruang mimpi. Pagi belum tiba aku beranjak menuju tempat berudara dingin namun hangat dengan tawa canda. Beberapa pasang mata tampak penuh keyakinan, ada yang terlihat penuh ambisi, ada yang kosong seperti mencari jiwanya yang belum tentu juga akan ia temukan disana. Segelintir pasang mata yang lain masih ragu dengan pilihannya. Selepas beberapa bait doa yang kami “haturkan” dini hari itu, aku dan yang lain berjalan menikmati dingin angin malam. Bulan yang iba, memantulkan cahaya mentari ke bumi. Beberapa kali canda tawa pecah dimulut kami. Namun tak cukup lama sampai akhirnya beberapa mulut melempar keluh. Seolah tak percaya pada Sang Empunya Semesta. Keluh itu cukup mengganggu, walau tak cukup menandingi keangkuhan dalam menghancurkan sebuah perjalanan. Aku hening dan mencoba berbisik pada diriku sendiri. “Hai, apakah kamu ingin melihat sunrise yang indah diatas sana?” Tak ada yang menjawab bisikan itu. ...

Ada yang, namun.... Inilah kehidupan.

Gambar
Setiap orang punya bayangan dan gambaran berbeda tentang kehidupan. Masing-masing kita melukiskan gambar lain pula tentang kehidupan. Cinta, benci, kehilangan, ketakutan, rindu, dan rasa yang lain silih berganti mengisi hari setiap kita. Ada yang bertemu benci tapi tak mengenalinya, ada yang bertemu cinta tapi tak melihatnya, banyak yang bertemu ketakutan tapi tak acuh padanya. Ada yang mencari cinta yang justru tersembunyi dilubuk hatinya, ada yang membuang benci kedalam jiwanya. Ada yang takut pada ketakutan, dan ada yang memeluk kehilangan yang sebenarnya t'lah hilang. Ada yang mengisi kekosongan dengan kekosongan. Ada yang rindu senyuman namun menebar tatapan curiga. Banyak rindu berbalas pengabaian. Banyak yang mengejar mimpi namun lupa mimpinya. Banyak yang merasa memiliki namun kehilangan sebelum mampu memiliki apapun. Ada yang hidup untuk mimpinya. Ada yang bermimpi tentang hidupnya. Ada yang menikmati malam namun rindu pada mentari. Ada yang menyambut mentari namu...