Postingan

Menampilkan postingan dengan label Makna hidup

Orang-Orang yang Keluar di Pagi Hari #1

Gambar
Punggung dedaunan masih basah oleh embun pagi. Saat ia berjalan pelan sembari membelai beberapa ranting yang sedikit menjulang ke jalan setapak. Matahari belum juga muncul, padahal ia telah berjalan melewati sebuah bukit. Nafasnya masih biasa saja meski jalan menanjak tengah dilaluinya. Beban bakul yang ia ikat dengan selendang di pinggang pun tak membuatnya terengah. Setiap pagi ia selalu seperti ini, beban-beban itu telah menjadi sahabatnya. Hening pagi adalah kawan terbaiknya. Suara aliran sungai. Kicau burung-burung liar nan merdu. Serta nada sumbang dari nafasnya sendiri, menghiburnya setiap kali lelah menghampiri langkahnya. Belum lagi sapaan embun pagi, juga hembusan udara segar pagi hari. Semua itu dinikmatinya setiap pagi tanpa rasa bosan.  Bakul berisi sayur di punggungnya adalah bahan sarapan pagi untuk sebuah panti jompo di pinggiran kota. Ia setiap pagi berjalan lebih dari 10km untuk bakul itu. Bukan upah yang ia terima yang membuatnya setia melakukannya. ...

Aplistos si Jerapah & Burung Nazzar

Gambar
Di sebuah samudra maha luas, hiduplah seekor jerapah bernama Aplistos. Ia tinggal seorang diri di sebuah pulau yang kecil, yang hanya sebesar halaman rumah. Selain hanya berisi padang rumput, pulau itu ditumbuhi sebuah pohon akasia yang daun-daunnya merupakan makanan kesukaan Aplistos. Aplistos merawat dengan baik pohon akasia itu. Ia sirami pohon itu setiap hari. Bahkan saat malam ia pun tidur di bawahnya. Karena memang bentuk pohon akasia yang seperti payung dan meneduhkan. Suatu hari datanglah seekor burung pemakan bangkai, Nazzar namanya. Tampak kelelahan, Nazzar beristirahat di salah satu ranting pohon akasia. Seketika Aplistos terbangun dari tidur siangnya, karena mendengar kepak burung itu. Aplistos belum pernah melihat Nazzar sebelumnya. Dalam hatinya ia mulai khawatir. Ia mulai takut kalau Nazzar akan menghabiskan biji-biji dan merusak bunga dan daun pohon akasia kesayangannya. Ia segera bangkit dan mengusir Nazzar dengan sekali hardik. “Tinggalkan pohon ini!” katan...

Cerpen : Tangis Rudi

Gambar
"Ia hanya berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Di bawah jingganya langit kala itu, aku melompat dari lantai 11 sebuah apartemen di Kota Semarang."  Sore yang tenang menjadi begitu riuh seketika. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang berkerumun menyaksikan seonggok mayat perempuan hancur di depan halaman apartemen. Tak ada yang berani melakukan sesuatu pada mayat itu, selain hanya menutupnya dengan kain seadanya. Terdengar bisik-bisik diantara kerumunan itu, orang-orang mulai menebak-nebak siapa dan apa alasan perempuan itu melompat dari atas apartemen.  Beberapa orang beranggapan perempuan itu melompat karena patah hati atau dikhianati kekasihnya. Ada juga yang berpendapat karena mabuk, pengaruh minuman keras. Ada juga yang menyangka didorong seseorang karena sebelumnya ada yang melihatnya cek-cok dengan seseorang di loby apartemen. Seakan prediksi mereka tak kunjung di klarifikasi oleh siapapun, meraka satu persatu mulai pergi dari sana. Bersamaan dengan datang...

Sketsa : Bintang yang Bersembunyi

Gambar
Ini menjadi malam yang begitu dingin di akhir musim kemarau. Langit di luar sana kelabu pekat. Tak ada bintang tampak satu pun. Semua berada di persembunyiannya. Jalanan sunyi sepi, tak ada yang lalu lalang atau sekadar melintas. Seorang gadis berambut hitam panjang nan berkilau, duduk di atas meja. Ia menghadap jendela yang tertutup. Dalam kamar yang gelap tanpa nyala lampu. Cahaya lampu jalanan mengintip dari celah-celah jendela. Membentuk kotak bergaris-garis berwarna kuning. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana, dengan tatapan kosong ke arah jendela. Sambil sesekali menunduk seperti berdoa. Ketika jarum jam dinding mulai merayap mendekati angka 2, ia mengatakan sesuatu dengan perlahan. “Terkadang aku ingin melihat masa depanku, tapi tak bisa.” “Apakah aku hanya akan hidup dengan cara; lahir, sekolah, kuliah, lulus lalu bekerja, setalah itu menikah, memiliki kerluarga, menjadi tua dan kembali menjadi debu?” Ia kembali menatap jendela itu dalam tatapan kosongnya ...

Cerpen : Katamu Aku Anakmu

“Ranti, ranti…” terdengar suara lembut memanggil namaku. Diiringi beberapa tangis teman-temanku. Mobil mulai berjalan dan semua menjadi sunyi. Bau asap, hawa panas dan pengap. Suara klakson dan knalpot berebut tempat di telingaku. Mobil masih terus berjalan. Sepertinya menuju tempat yang asing. Sepanjang jalan tak ada perbincangan. Hanya beberapa kali terdengar siul yang ku yakin nadanya ngawur tak jelas referensinya. Mungkin sekedar untuk memecah kesunyian. Orang dewasa memang aneh, mereka suka bersandiwara. Suka sekali bermain-main ekspresi yang berbeda dengan yang dirasa. Berbeda dengan anak-anak yang bermain ekspresi sesuai apa yang ia rasa. Mengalir begitu saja seperti tanpa perintah atau komando. Senyum di dalam senyum, tangis di dalam tangis. Tetapi tidak dengan orang dewasa. Sering ada tangis di dalam tawa, juga sebaliknya. Mobil berhenti setelah beberapa kali seperti menginjak polisi tidur. Polisi seperti apakah mereka ini, yang rela diinjak. Tetapi yang ku dengar polisi ...

51 yang (Ber)lalu

Gambar
51 bulan setelah tanggal 29 februari tahun 2012. Di malam yang katanya adalah malam dimana planet Mars bersinar paling terang selama 10 tahun ini. Ada dua hati yang begitu murung dan redup. Mungkin karena sinarnya dipinjam Mars malam ini. Dua hati yang duduk termenung, menilik kembali jauh ke dalam rongga-rongga yang terlalu lama terlewati. Mengenang kembali 51 bulan yang lalu. 51 bulan panjang yang terasa begitu pendek. Terasa singkat namun menaungi ratusan cerita hari-hari dalam suka, duka dan cinta. Riangmu tergambar dalam satu kedipan. Sedihmu terdengar dalam satu tarikan nafas malam ini. Hembusan nafasku masih mengisyaratkan keinginan untuk melengkapi satu sama lain. Tapi ini badai, badai yang tak terelakkan. Badai yang tak cukup kuat untuk kita mampu bertahan. Bahkan sekedar berpegang tangan pun kini kita tak mampu. Badai mengapa datang saat kakiku begitu lemah tuk berpijak. Badai datang justru di tengah damainya angin semilir kian kemari. Saat rindu beradu dengan jarak dan w...

Biarkan Aku Sendiri (dulu)

Gambar
Dan, sampailah dititik dimana aku benar-benar tak mampu “sok tahu” tentang apa yang akan terjadi esok. Dititik yang semua orang anggap sebagai titik "0". Dititik saat aku lebih banyak memiliki waktu untuk “menunggu” daripada menikmati sebuah perjumpaan. Dititik dimana aku menikmati setiap detik waktu dengan rasa yang bercampur hingga hilang rasanya. Dititik dimana aku tak percaya siapapun karena nyatanya aku tak percaya pada diriku sendiri. Sekarang. Bulan baru saja tertutup awan abu-abu pekat. Menghilanglah ia kini dari pandanganku. Seketika dingin menyergap seluruh tubuhku. Beriring dengan menghilangnya suara canda tawamu dari telingaku. Sekelam langit malam itu di atas sana, aku murung menyalahkan diriku sendiri. Mencoba menyesali apa yang tak dapat disesali. Masa lalu. Dan mencari kesalahan dari apa yang tak pernah salah dimuka bumi ini. Kejujuran. Masih ku ingat candaan kecil diawal percakapan kita tadi. Masih terasa kerut pipiku saat kita tertawa bersam...

Berdiri Di Mimpi

Gambar
Siapa bilang mimpi itu tidak nyata? seperti dingin, ia adalah keadaan dimana keberadaan panas hanya terbatas atau tak ada sama sekali. Maka orang menyebutnya dingin. Lalu lihatlah kegelapan, ia adalah keadaan dimana keberadaan terang sangat terbatas atau bahkan tak ada sama sekali. Maka orang menyebutnya gelap. Lihatlah, apakah dingin dan gelap tidak nyata? mereka nyata, mereka kau rasakan, mereka merengkuhmu. Mereka bisa membunuhmu dengan caranya. Dalam dingin ada kekakuan, ada batas untukmu bergerak. Dalam dingin ada pelukan yang menahanmu. Dalam dingin ada langkah berat yang terseok dan berjejak. Dalam dingin ada hembusan yang tertahan. Dalam dingin ada hal yang tak pernah berubah. Dalam dingin ada yang mengahalangi tatapanmu. Dalam dingin sentuhan adalah kehangatan. Dalam dingin ada diam. Dalam gelap, ada ketidaktahuan. Dalam gelap semua sama. Dalam gelap aku tak mengenalimu. Dalam gelap ada yang melihat tanpa menatap. Dalam gelap tak ada jauh dan dekat. Dalam gelap ada ...

"Kita t'lah sampai di titik ini, ..."

Gambar
"Kita t'lah sampai di titik ini, ..." kataku pada mulutku. Lihatlah, semua hal t'lah berubah. Tidak, mereka tidak benar-benar berubah. Hanya saja waktu menuntunku ke sudut lain dari ruang kehidupan ini. Hawa yang ku rasakan pun kini berbeda, tak sehangat kala ku duduk di ruang keluarga dan bercengkerama. Pintu yang terbuka mengajak angin membasuh wajahku yang masih terdiam menatap dedaunan melambai di halaman rumahku. “Mengapa kau diam saja? Bukankah sekarang saatnya kita pergi?” Kataku pada bibirku. Ia tak mampu lagi berucap, seakan terik mentari membungkamnya. “Kita t’lah sampai di titik ini, ...” itu yang bibirku ucapkan padaku saat kakiku mulai bergerak perlahan. Betapa ruangan ini menahan kakiku erat, memaksa mataku berkeliling melirik setiap potret cerita yang terbingkai rapi di dindingnya. “Apa yang kau lihat?” kata bibirku pada mataku. Sementara telingaku sibuk mencari sumber suara dari percakapan seru yang ia dengarkan sejak tadi. “Apa yang ...

Derap Masa

Gambar
Tawa itu, amarah itu, kekecewaan itu, kebersamaan itu, keceriaan itu, semua menguap di tengah malam yang bisu. Sepasang mata masih terbuka dengan kepala yang mencoba menerawang masuk menjejakkan kaki di jalan yang t’lah dilewati sebelumnya. Jalan penuh rasa, jalan berkerikil suka berselang duka. Sebuah cerita tentang manusia yang bercerita tentang masa-masa terindah dalam hidupnya. Masa yang belum berganti, namun semua berada di ujung bibir dan segera terucap menjadi kata yang berlalu begitu saja. Setiap manusia memiliki masa dimana hidupnya terasa begitu bersemangat, begitu hidup walau kesusahan tak putusnya datang. Walau tak selamanya langit biru cerah, walau tak selalu hujan turun segarkan bumi. Juga dengan masa dimana keceriaan bukan ukuran kebahagiaan, tawa bukan simbol hati nan bersuka. Hidup begitu rumit dengan tawa dan tangis palsunya. Tak ada rencana untuk sebuah kebahagiaan, tak ada penyesalan untuk kebahagiaan. Tak ada yang mengundang duka, namun tak berdaya mengusir ji...

Bola Tenis, Kelereng atau Pasir + Kopi

Gambar
Cerita singkat yang inspiratif dan menarik ini diambil dari Group FB : https://www.facebook.com/MemeAndRageComicIndonesia/photos/a.227654487356996.48210.227481340707644/1015229431932827/?type=3&fref=nf Seorang guru besar di depan audiens nya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yg bening & besar di atas meja. * Lalu sang guru mengisinya dengan bola t enis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?" * Audiens menjawab: "Sudah penuh". * Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya & memasukkan nya ke dlm topless tadi. Kelereng mengisi sela2 bola tenis hingga tdk muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?" * Audiens menjawab: "Sudah penuh". * Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai & memasukkan nya ke dlm topless yg sama. Pasir pun mengisi sela2 bola & kelereng hingga tdk bisa muat lagi. Semua sepakat kalau topless sdh penuh & tdk ada yg bisa dimasukkan lg ke dalamnya. * ...

Peran dan Pesan

Gambar
Sore semakin tunduk pada gelap. Pertanda malam segera menunjukan eksistensinya. Sebuah rumah sederhana sediakan halamannya agar beberapa anak berdoa memohon pada Tuhannya. Sinar harapan terpancar dari wajah-wajah yang terhanyut dalam doa. Seperti sekelompok domba yang terpisah dari kawanannya, dan perlahan melihat cahaya penerang yang dibawa sang Gembala yang setia mencari domba-dombaNya yang terhilang. Sebelum malam semakin larut, kami bersama menuju Ungaran (nama daerah di Jawa Tengah). Perlahan tapi pasti, kini kami telah memasuki gerbang kampus STT Abdiel di Ungaran. Terlihat beberapa mahasiswa rapi dan bersiap memulai malam puncak ospek mereka. Acara itu pulalah yang membuat kami berdiri ditempat ini sekarang. Bukan untuk kami, kami datang membawa pesan tentang betapa baiknya Tuhan mengijinkan kami datang ketempat ini. Tak lama setelah serangkaian acara yang menarik dan hangat, kami mendapat giliran untuk disaksikan puluhan pasang mata disana. Tak terasa tiga lagu telah s...

Bingkai Kehidupan

Gambar
Seperti dalam salah satu tulisanku sebelumnya, bahwa manusia senang bermain-main dengan masa. Masa lalu, masa kini dan masa depan. Tak kan ku ulangi cerita yang t'lah lalu, tetapi ku coba melihat sedikit berbeda. Dan semoga benar-benar berbeda. Berangkat dari salah satu cerita sebelumnya pula, aku memulai cerita ini. Seperti sudah pernah aku sampaikan bahwa aku menantang diri sendiri dalam bidang bisnis. Singkat cerita sebuah toko online yang menjual berbagai macam frame telah ku dirikan.  Lalu apa kaitannya dengan manusia yang bermain masa? Ya, jelas sangat berkaitan. Frame tentu biasanya berisi foto kejadian yang telah terjadi. Tak mungkin kan kita pasang foto kejadian yang belum terjadi. Kecuali dalam angan kita yang memang senang bermain-main dengan masa. Foto terbaik atau kenangan terbaik pasti menjadi prioritas utama untuk dibingkai indah dalam frame kotak sederhana. Sesuatu yang indah  agar mengingatkan kita tentang masa yang membawa senyum dan b...