Postingan

Dunia di antara Aku dan Diriku

Gambar
Aku bertemu malam saat berjalan tertunduk tanpa arah tujuan. Menuruti langkah kaki yang juga tak berjejak di belakang. Rembulan pun terus mengawasi dari balik dedaunan yang berayun. Meski hanya bulan sabit namun sinarnya hampir seterang sore hari menjelang senja. Arah langkah kaki ini benar-benar tak teratur. Mengikuti bisikan-bisikan yang berebut perhatian daun telingaku. Bisikan-bisikan yang kadang hanya pelan namun juga bisa begitu keras mengalahkan suara pijakkan kaki. Bisingnya bisa melebihi teriakan kernet bus di terminal kota-kota besar. Aku belum membuka mata meski telah berjalan dua kali mengitari dunia. Tak perlu heran. Duniaku hanya kecil. Hanya sepanjang harapan dan sejauh doa. Isinya pun tak banyak. Tak sepadat bumi manusia pada umumnya. Duniaku hanya berisi dua kata, ketakutan dan keberanian. Tetapi ada celah di antara keduanya. Itulah jalan yang sering ku lalui. Jalan yang sama juga yang tengah ku arungi malam ini. Di duniaku ini juga ada yang berbeda un...

Diambil dari : Suar Aksara - Sudah Saatnya (Bandung)

Gambar
Deru Jengah Nafas Arah Ada kalanya kita harus menepi dari segala rutinitas Meraih kembali makna bebas Menemukan diri kita pada titik dalam detik tanpa batas Sebab di antara semua penat akan selalu ada yang melintas Tawa kecil di waktu lalu Suap demi suap masakan ibu Juga rentetan senyum yang membuat kita tertunduk malu Waktu berubah, rindu melangkah, usia bertambah, begitu pula kisah Cinta Luka Tangis Tawa, bergantian mendaur ulang rasa Kita terjebak dalam gerak tanpa jejak Dan hati kita sampai pada pertanyaan, mau sampai kapan? Pada akhirnya kita harus berhenti mengenang dan mulai bertualang Meraih kembali makna pulang Membawa diri kita Pada rela atas semua yang hilang dan seluruh yang datang Percaya, yang terlepas akan berganti, yang bertahan akan abadi Karena raga bisa berpindah Namun hati akan selalu menetap Sudah saatnya pergi, hati kita layak dicintai Dipublikasikan tanggal 16 Jul 2017 (youtube) Suar Aksara ...

Sajak Bebas : Mengenal Siapa Aku

Gambar
Aku ingin menyaksikan diriku duduk di teras rumah bersama secangkir teh hangat Menyaksikan senja yang tak pernah tenggelam si tepi langit Jingganya terus saja berpendar ke ujung langit Keemasan warnanya melunturkan warna langit yang katanya biru Aku ingin hanyut dalam sunyinya senja bersama sebuah buku Dan direngkuh keemasan cahaya senja yang tak pernah terbenam Dalam sunyi ada kesedihan yang datang dari dalam diriku Dalam kesedihan aku mengenal siapa aku Seutuhnya aku, yang telanjang tanpa tipu daya dan persona Aku selalu suka kesedihan, kesedihan yang tak pernah berusaha ku tinggalkan Kesedihan yang memang lahir bersamaku dari rahim yang sama Itulah aku, selalu percaya bahwa setiap manusia terlahir bersama kesedihan Tangis yang meledak segera saat melihat dunia adalah buktinya Itulah sejatinya kejujuran, telanjang dan bersuara lantang seperti tangisan Tetapi manusia memang durhaka Mereka tak pernah bertindak syukur atas yang ada dalam diri mereka Termasuk juga kese...

P U I S I : Menatap

Gambar
Ada mata yang tak mampu menatap Hanya mulut menyesap secangkir ratap Tak lagi ada pejam kala malam menyergap Angan sesak membayang dalam gelap Di sela malam ada getar kaki menanti pagi Acuhkan bulan yang warnanya pucat pasi Jika saja senja dapat kuulang kembali Ijinkan kukecup keningmu sebelum pergi Matheus Aribowo Salatiga, 13 Agustus 2017

Yang Pergi Saat Senja Datang

Gambar
Langit biru tanpa awan. Di bawahnya berhembus angin segar menggoyangkan daun-daun padi yang menguning. Menimbulkan bunyi gesekan daun yang merdu. Sekawanan burung kecil terbang sambil berkicau riang. Jika aku dapat mengartikan bahasa mereka. Mungkin mereka tengah bernyanyi bersyukur kepada Tuhan, atas alam yang begitu menyenangkan.  Aku selalu duduk di sini sejak siang hari . Menyaksikan sawah terbentang hijau dan kuning di hadapanku. Membaca buku atau sekadar mendengarkan musik. Sembari menikmati angin sore yang sejuk dari teras belakang rumah nenek. Suasana yang membuat hatiku damai. Setidaknya membuatku perlahan melupakan kepenatan di kota. Aku mengambil cuti 2 minggu, di tambah long weekend 3 hari. Semoga cukup untuk membuatku sembuh dari perihku. Pemuda itu datang lagi. Ia kembali membawa kuas, cat air dan papan kanvasnya. Duduk tepat di tepi sawah. Selalu saja membelakangiku. Sudah tiga hari ia selalu datang ke tempat yang sama. Maka aku selalu melihatnya, karen...

Aplistos si Jerapah & Burung Nazzar

Gambar
Di sebuah samudra maha luas, hiduplah seekor jerapah bernama Aplistos. Ia tinggal seorang diri di sebuah pulau yang kecil, yang hanya sebesar halaman rumah. Selain hanya berisi padang rumput, pulau itu ditumbuhi sebuah pohon akasia yang daun-daunnya merupakan makanan kesukaan Aplistos. Aplistos merawat dengan baik pohon akasia itu. Ia sirami pohon itu setiap hari. Bahkan saat malam ia pun tidur di bawahnya. Karena memang bentuk pohon akasia yang seperti payung dan meneduhkan. Suatu hari datanglah seekor burung pemakan bangkai, Nazzar namanya. Tampak kelelahan, Nazzar beristirahat di salah satu ranting pohon akasia. Seketika Aplistos terbangun dari tidur siangnya, karena mendengar kepak burung itu. Aplistos belum pernah melihat Nazzar sebelumnya. Dalam hatinya ia mulai khawatir. Ia mulai takut kalau Nazzar akan menghabiskan biji-biji dan merusak bunga dan daun pohon akasia kesayangannya. Ia segera bangkit dan mengusir Nazzar dengan sekali hardik. “Tinggalkan pohon ini!” katan...

Sajak Bebas : Lukisan di Selaput Mata

Gambar
Masihkah kau ingat, aku suka melukis? Sudah lama aku meninggalkannya. Telah lama aku tak berbincang jujur dengan hatiku yang kau bawa pergi. Maka takkan ada lukisan yang kan tergambar, sebelum kau kembalikan hatiku yang kau tawan. Kecuali malam ini, aku melukis lagi. Melukis senyummu di tengah gelapnya malam. Menggoreskan garis-garis tipis yang menghubungkan bintang-bintang paling terang di alam raya sana. Tetapi kau tahu? Lukisanku akan lenyap esok pagi. Sepanjang siang aku akan menanti-nantikan malam yang cerah tanpa awan. Jika malam datang bersama kabut apalagi hujan, aku takkan bisa melukis lagi. Hanya duduk termenung, berdoa agar waktu segera berlari membawa kembali malam penuh bintang.  Jika dahulu aku melukis dengan warna-warna, maka kini lukisanku hanya hitam dan putih. Karena warnanya t'lah pergi. Terselip dalam lipatan-lipatan rindu yang kau tumpuk rapi di hati. Jika dahulu lukisanku bisa di abadikan dalam sebuah bingkai di kamarmu. Kini lukisanku aba...

Sambi Lalu

Gambar
"Mengapa kau suka Salatiga dan Bandung?" Karena Salatiga menyediakan semua hal yang membuatmu terus hidup dalam hari-hariku. Meski kau jauh dan tak lagi di sini. Semua tentangmu masih rapi tersimpan di setiap sudut kota ini. Setiap sudut kota dan tak ada yang terlewatkan. Pernah aku tiba di sebuah persimpangan jalan, aku terhenti dan melihat kita bergandengan tangan di pedestrian. Lalu di sebuah kedai teh. Secangkir teh di cangkir berwarna putih polos yang kupesan, memantulkan wajahmu. Tersenyum kepadaku. Di siang yang terik aku berjalan menyeberang keramaian kota. Sampai pada sebuah toko pernak-pernik, dan aku melihatmu memilih benang berwarna-warni. Terlihat kau menimang-nimang benang-benang itu dan bertanya padaku. Benang berwarna apa yang hendak kau bawa pulang. Aku hanya tersenyum. Dan disebuah hari hujan ditengah musim kemarau. Sengaja ku tenggelamkan diriku pada rintik-rintik hujan. Aku ingat, rintik-rintik hujan di kota ini selalu membawa kehangatan dan pesan...

Puisi : PER ( H E N T I ) AN

Seketika segalanya berhenti termangu Menyaksikan namamu menguap dari kepalaku Telingaku pun kini begitu pemalu memilih lagu Tak mau ia dengar lantunan lagu-lagu sendu Takkan rela membiarkan ada yang remuk pilu Ragaku masih segar menetap hari-hari esok Namun langkah ini perlahan tapi pasti mulai terseok Ku pahami harus ada yang pergi dan berganti Namun pikiranku tak mampu menahan hati tuk henti Kau, masih satu-satunya yang ku tunggu senyum dan sapamu Di saat yang sama, kau juga satu-satunya yang tak ku inginkan bertemu Di saat yang sama pula ruang rinduku menyerah pada pelukmu Sedang logika di kepalaku berperang melawan hadirmu Matheus Aribowo Salatiga, 26 Juli 2017

Cerpen : Tangis Rudi

Gambar
"Ia hanya berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Di bawah jingganya langit kala itu, aku melompat dari lantai 11 sebuah apartemen di Kota Semarang."  Sore yang tenang menjadi begitu riuh seketika. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang berkerumun menyaksikan seonggok mayat perempuan hancur di depan halaman apartemen. Tak ada yang berani melakukan sesuatu pada mayat itu, selain hanya menutupnya dengan kain seadanya. Terdengar bisik-bisik diantara kerumunan itu, orang-orang mulai menebak-nebak siapa dan apa alasan perempuan itu melompat dari atas apartemen.  Beberapa orang beranggapan perempuan itu melompat karena patah hati atau dikhianati kekasihnya. Ada juga yang berpendapat karena mabuk, pengaruh minuman keras. Ada juga yang menyangka didorong seseorang karena sebelumnya ada yang melihatnya cek-cok dengan seseorang di loby apartemen. Seakan prediksi mereka tak kunjung di klarifikasi oleh siapapun, meraka satu persatu mulai pergi dari sana. Bersamaan dengan datang...

Sketsa : Bintang yang Bersembunyi

Gambar
Ini menjadi malam yang begitu dingin di akhir musim kemarau. Langit di luar sana kelabu pekat. Tak ada bintang tampak satu pun. Semua berada di persembunyiannya. Jalanan sunyi sepi, tak ada yang lalu lalang atau sekadar melintas. Seorang gadis berambut hitam panjang nan berkilau, duduk di atas meja. Ia menghadap jendela yang tertutup. Dalam kamar yang gelap tanpa nyala lampu. Cahaya lampu jalanan mengintip dari celah-celah jendela. Membentuk kotak bergaris-garis berwarna kuning. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana, dengan tatapan kosong ke arah jendela. Sambil sesekali menunduk seperti berdoa. Ketika jarum jam dinding mulai merayap mendekati angka 2, ia mengatakan sesuatu dengan perlahan. “Terkadang aku ingin melihat masa depanku, tapi tak bisa.” “Apakah aku hanya akan hidup dengan cara; lahir, sekolah, kuliah, lulus lalu bekerja, setalah itu menikah, memiliki kerluarga, menjadi tua dan kembali menjadi debu?” Ia kembali menatap jendela itu dalam tatapan kosongnya ...

Apakah kita peduli?

Gambar
"Peduli tentang apa? Mengapa judulnya seperti itu?"  Baiklah, jadi begini. Pernahkah kita mendengar sebuah ungkapan "Takkan ada yang peduli pada mimpi kita kecuali diri kita sendiri?" Ya, kira-kira begitu. Benar bukan? Orang lain tak akan ada yang peduli dengan mimpi kita. Mungkin karena mereka juga tengah mencari mimpinya, atau sudah menemukan dan sedang menggelutinya. Tapi tunggu dulu.  Setidaknya ada beberapa hal yang akan kita bahas sebelum lebih jauh lagi. Pertama, aku punya mimpi. Kedua, mampukah kucapai mimpiku. Ketiga, pedulikah dengan mimpiku? Mari kita mulai dari yang pertama . Aku punya mimpi, dalam bahasa kerennya "I Have A Dream" - Martin Luther King Jr. Ungkapan yang begitu powerful ini terjadi dalam pidatonya pada tahun 1963 mengenai Kesetaraan Ras dan Diskriminasi. Siapa sangka sebuah ungkapan sederhana ini membawa kekuatan yang begitu magis. Banyak orang meremehkan mimpi. Mimpi orang lain, bahkan mimpinya sendiri. Sungguh...

Puisi : K I T A

Gambar
Aku pernah memintamu dengan sederhana Melalui doa lirih yang ku senandungkan kepada-Nya Tuhan pernah memberimu dengan sederhana Wujud doamu yang ternyata kita ucapkan bersama Aku pernah bersamamu dengan sederhana Melewati hari-hari yang penuh senyum dan tawa Hari-hari pernah menyatukan kita dengan sederhana Wujud cinta yang menggaung indah melampaui semesta Aku pernah kehilanganmu dengan sederhana Dalam kata-kata yang tak pernah terangkai sebelumnya Aku pernah menangisimu dengan sederhana Karena nafas dan detak jantung ini tak lagi seirama Aku pernah merindukanmu dengan sederhana Dari lagu-laguku yang tak memiliki nada Aku pernah ingin melupakanmu dengan sederhana Karena tak mampu lagi berharap akan adanya KITA Matheus Aribowo 17 Juli 2017

Cerpen : Percakapan dalam Hujan

Gambar
Aku baru saja masuk ke sebuah kedai kopi, ketika ku sadari gawai dan komputer jinjingku tertinggal di meja kantor. Mungkin karena terlalu terburu-buru pergi sebelum hujan datang. Karena di luar sana langit telah membawa teror yang luar biasa mengerikan bagi pejalan kaki yang lupa membawa payung. Bahkan juga kepada pengendara sepeda motor yang juga lupa jas hujannya. Di sepanjang perjalanan dari kantor juga orang-orang mempercepat langkahnya. Beberapa pedagang kaki lima mulai berkemas tergesa. Jalanan seketika padat, dan tersendat di beberapa titik jalan. Suara bising klakson menggema di hampir semua jalanan kota. Segalanya begitu cepat berubah, tawa riang bahagia bisa dengan segera berubah menjadi tangis duka yang dalam. Tetapi bukankah memang begitu indahnya. Hidup dengan kejutan-kejutan yang tak pernah kita tahu. Meja kosong dekat jendela kaca yang luas menjadi singgasanaku sore ini. Tempat yang strategis. Dari sini aku bisa menyaksikan riuhnya jalanan tanpa suara bisingn...