Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hidup

Aplistos si Jerapah & Burung Nazzar

Gambar
Di sebuah samudra maha luas, hiduplah seekor jerapah bernama Aplistos. Ia tinggal seorang diri di sebuah pulau yang kecil, yang hanya sebesar halaman rumah. Selain hanya berisi padang rumput, pulau itu ditumbuhi sebuah pohon akasia yang daun-daunnya merupakan makanan kesukaan Aplistos. Aplistos merawat dengan baik pohon akasia itu. Ia sirami pohon itu setiap hari. Bahkan saat malam ia pun tidur di bawahnya. Karena memang bentuk pohon akasia yang seperti payung dan meneduhkan. Suatu hari datanglah seekor burung pemakan bangkai, Nazzar namanya. Tampak kelelahan, Nazzar beristirahat di salah satu ranting pohon akasia. Seketika Aplistos terbangun dari tidur siangnya, karena mendengar kepak burung itu. Aplistos belum pernah melihat Nazzar sebelumnya. Dalam hatinya ia mulai khawatir. Ia mulai takut kalau Nazzar akan menghabiskan biji-biji dan merusak bunga dan daun pohon akasia kesayangannya. Ia segera bangkit dan mengusir Nazzar dengan sekali hardik. “Tinggalkan pohon ini!” katan...

Cerpen : Tangis Rudi

Gambar
"Ia hanya berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Di bawah jingganya langit kala itu, aku melompat dari lantai 11 sebuah apartemen di Kota Semarang."  Sore yang tenang menjadi begitu riuh seketika. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang berkerumun menyaksikan seonggok mayat perempuan hancur di depan halaman apartemen. Tak ada yang berani melakukan sesuatu pada mayat itu, selain hanya menutupnya dengan kain seadanya. Terdengar bisik-bisik diantara kerumunan itu, orang-orang mulai menebak-nebak siapa dan apa alasan perempuan itu melompat dari atas apartemen.  Beberapa orang beranggapan perempuan itu melompat karena patah hati atau dikhianati kekasihnya. Ada juga yang berpendapat karena mabuk, pengaruh minuman keras. Ada juga yang menyangka didorong seseorang karena sebelumnya ada yang melihatnya cek-cok dengan seseorang di loby apartemen. Seakan prediksi mereka tak kunjung di klarifikasi oleh siapapun, meraka satu persatu mulai pergi dari sana. Bersamaan dengan datang...

"Kita t'lah sampai di titik ini, ..."

Gambar
"Kita t'lah sampai di titik ini, ..." kataku pada mulutku. Lihatlah, semua hal t'lah berubah. Tidak, mereka tidak benar-benar berubah. Hanya saja waktu menuntunku ke sudut lain dari ruang kehidupan ini. Hawa yang ku rasakan pun kini berbeda, tak sehangat kala ku duduk di ruang keluarga dan bercengkerama. Pintu yang terbuka mengajak angin membasuh wajahku yang masih terdiam menatap dedaunan melambai di halaman rumahku. “Mengapa kau diam saja? Bukankah sekarang saatnya kita pergi?” Kataku pada bibirku. Ia tak mampu lagi berucap, seakan terik mentari membungkamnya. “Kita t’lah sampai di titik ini, ...” itu yang bibirku ucapkan padaku saat kakiku mulai bergerak perlahan. Betapa ruangan ini menahan kakiku erat, memaksa mataku berkeliling melirik setiap potret cerita yang terbingkai rapi di dindingnya. “Apa yang kau lihat?” kata bibirku pada mataku. Sementara telingaku sibuk mencari sumber suara dari percakapan seru yang ia dengarkan sejak tadi. “Apa yang ...

Derap Masa

Gambar
Tawa itu, amarah itu, kekecewaan itu, kebersamaan itu, keceriaan itu, semua menguap di tengah malam yang bisu. Sepasang mata masih terbuka dengan kepala yang mencoba menerawang masuk menjejakkan kaki di jalan yang t’lah dilewati sebelumnya. Jalan penuh rasa, jalan berkerikil suka berselang duka. Sebuah cerita tentang manusia yang bercerita tentang masa-masa terindah dalam hidupnya. Masa yang belum berganti, namun semua berada di ujung bibir dan segera terucap menjadi kata yang berlalu begitu saja. Setiap manusia memiliki masa dimana hidupnya terasa begitu bersemangat, begitu hidup walau kesusahan tak putusnya datang. Walau tak selamanya langit biru cerah, walau tak selalu hujan turun segarkan bumi. Juga dengan masa dimana keceriaan bukan ukuran kebahagiaan, tawa bukan simbol hati nan bersuka. Hidup begitu rumit dengan tawa dan tangis palsunya. Tak ada rencana untuk sebuah kebahagiaan, tak ada penyesalan untuk kebahagiaan. Tak ada yang mengundang duka, namun tak berdaya mengusir ji...

Bola Tenis, Kelereng atau Pasir + Kopi

Gambar
Cerita singkat yang inspiratif dan menarik ini diambil dari Group FB : https://www.facebook.com/MemeAndRageComicIndonesia/photos/a.227654487356996.48210.227481340707644/1015229431932827/?type=3&fref=nf Seorang guru besar di depan audiens nya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yg bening & besar di atas meja. * Lalu sang guru mengisinya dengan bola t enis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?" * Audiens menjawab: "Sudah penuh". * Lalu sang guru mengeluarkan kelereng dari kotaknya & memasukkan nya ke dlm topless tadi. Kelereng mengisi sela2 bola tenis hingga tdk muat lagi. Beliau bertanya: "Sudah penuh?" * Audiens menjawab: "Sudah penuh". * Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai & memasukkan nya ke dlm topless yg sama. Pasir pun mengisi sela2 bola & kelereng hingga tdk bisa muat lagi. Semua sepakat kalau topless sdh penuh & tdk ada yg bisa dimasukkan lg ke dalamnya. * ...

Cinta Dan Semesta

Gambar
Saat itu malam menjeratku erat. Aku tak dibiarkannya jatuh dalam ruang mimpi. Pagi belum tiba aku beranjak menuju tempat berudara dingin namun hangat dengan tawa canda. Beberapa pasang mata tampak penuh keyakinan, ada yang terlihat penuh ambisi, ada yang kosong seperti mencari jiwanya yang belum tentu juga akan ia temukan disana. Segelintir pasang mata yang lain masih ragu dengan pilihannya. Selepas beberapa bait doa yang kami “haturkan” dini hari itu, aku dan yang lain berjalan menikmati dingin angin malam. Bulan yang iba, memantulkan cahaya mentari ke bumi. Beberapa kali canda tawa pecah dimulut kami. Namun tak cukup lama sampai akhirnya beberapa mulut melempar keluh. Seolah tak percaya pada Sang Empunya Semesta. Keluh itu cukup mengganggu, walau tak cukup menandingi keangkuhan dalam menghancurkan sebuah perjalanan. Aku hening dan mencoba berbisik pada diriku sendiri. “Hai, apakah kamu ingin melihat sunrise yang indah diatas sana?” Tak ada yang menjawab bisikan itu. ...

Bingkai Kehidupan

Gambar
Seperti dalam salah satu tulisanku sebelumnya, bahwa manusia senang bermain-main dengan masa. Masa lalu, masa kini dan masa depan. Tak kan ku ulangi cerita yang t'lah lalu, tetapi ku coba melihat sedikit berbeda. Dan semoga benar-benar berbeda. Berangkat dari salah satu cerita sebelumnya pula, aku memulai cerita ini. Seperti sudah pernah aku sampaikan bahwa aku menantang diri sendiri dalam bidang bisnis. Singkat cerita sebuah toko online yang menjual berbagai macam frame telah ku dirikan.  Lalu apa kaitannya dengan manusia yang bermain masa? Ya, jelas sangat berkaitan. Frame tentu biasanya berisi foto kejadian yang telah terjadi. Tak mungkin kan kita pasang foto kejadian yang belum terjadi. Kecuali dalam angan kita yang memang senang bermain-main dengan masa. Foto terbaik atau kenangan terbaik pasti menjadi prioritas utama untuk dibingkai indah dalam frame kotak sederhana. Sesuatu yang indah  agar mengingatkan kita tentang masa yang membawa senyum dan b...

Ada yang, namun.... Inilah kehidupan.

Gambar
Setiap orang punya bayangan dan gambaran berbeda tentang kehidupan. Masing-masing kita melukiskan gambar lain pula tentang kehidupan. Cinta, benci, kehilangan, ketakutan, rindu, dan rasa yang lain silih berganti mengisi hari setiap kita. Ada yang bertemu benci tapi tak mengenalinya, ada yang bertemu cinta tapi tak melihatnya, banyak yang bertemu ketakutan tapi tak acuh padanya. Ada yang mencari cinta yang justru tersembunyi dilubuk hatinya, ada yang membuang benci kedalam jiwanya. Ada yang takut pada ketakutan, dan ada yang memeluk kehilangan yang sebenarnya t'lah hilang. Ada yang mengisi kekosongan dengan kekosongan. Ada yang rindu senyuman namun menebar tatapan curiga. Banyak rindu berbalas pengabaian. Banyak yang mengejar mimpi namun lupa mimpinya. Banyak yang merasa memiliki namun kehilangan sebelum mampu memiliki apapun. Ada yang hidup untuk mimpinya. Ada yang bermimpi tentang hidupnya. Ada yang menikmati malam namun rindu pada mentari. Ada yang menyambut mentari namu...

Buku Pertanda 2 Mei

Gambar
2 Mei 2015, itu pasti bukan tanggal hari ini. Ya, memang bukan hari ini. Itu tanggal ketika aku selesai membaca buku karya Paulo Coelho, The Alchemist. Buku itu benar-benar buku yang luar biasa bagiku, dan aku yakin juga bagi jutaan penggemar buku lain di seluruh dunia. Sangat terlambat memang mengatakan ini sekarang, mengingat buku ini sudah booming cukup lama dikalangan pecinta buku dan novel. Tapi tak masalah. Bagiku, buku yang baik tak pernah beranjak tua. Benar saja, buku ini membuatku belajar banyak hal. Beberapa hal membuat anganku kembali menyusuri jalanan masa laluku dan kembali melihat potret kehidupanku yang begitu berserakan disana. Seakan begitu lama aku disana sampai aku harus merindukan waktu sebenarnya. Tibalah aku di masa dimana seharusnya hati, pikiran dan mimpiku hidup, masa kini. Manusia sering kali bermain-main dengan masa. Sampai banyak yang terjebak di masa yang t’lah tiada. Juga suka menggambar dan seakan hidup di masa depan. Tapi mereka lupa, mereka hi...

Cerita Membaca dan Menulis

Gambar
Entah apakah ini awal dari cerita ini atau bukan, semoga ini seperti awal sebuah cerita. Tahun lalu, saya memulai sebuah hoby baru. Membaca buku, iya membaca buku terdengar sangat sederhana untuk menjadi sebuah hoby. Membaca tentu bukan hal asing bagi banyak orang, demikian pula bagiku. Bahkan dulu sebelum aku masuk ke Taman Kanak-kanak (TK) aku sudah lancar membaca. Mamat kecil (Mamat sebagai Matheus sebagai Sang Pena) tinggal bersama neneknya (yang juga pernah aku tulis dalam tulisanku terdahulu). Dia harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Mamat tinggal disebuah desa nan sejuk dan damai. Dimana view dari desa itu menjadi inspirasi semua gambar pemandangan anak-anak SD di negeri ini (dua gunung, sawah jalanan desa, dll). Desa itu benar-benar indah, seindah imajinasi anak-anak negeri melukiskan indahnya negeri ini. Mamat kecil hidup dalam kesederhanaan dan lugunya alam. Darisinilah Mamat kecil mengenal membaca, dari neneknya yang cantik dan dulu bercit...

Cinta Lukisan Senja

Gambar
Sore itu, iya itu sore. Atau mungkin masih siang aku lupa. Hanya karena sedari pagi aku di tempat ini, tak lagi ku hiraukan waktu. Oke, aku ingat, itu di sebuah siang. Sebuah siang yang terik. Kuingat dari banyaknya cahaya yang menerobos kaca bening di samping tempat dudukku. Ku ingat pula saat mataku bermain dengan tarian bayang-bayang dedaunan di luar jendela.  Beberapa buku menemaniku duduk terhipnotis oleh sepatah kata, "menunggu". Menunggu waktu, menunggu semesta, menunggu mentari, menunggu senyummu. Entah apalagi yang harus ku tunggu, karena hidup sepertinya lebih suka mempersilahkan kita untuk menunggu. Terlalu banyak waktu dihabiskan untuk "menunggu". Sampai-sampai tak ada yang bertanya apa itu arti "menunggu".  Semua merasa kenal dan dekat dengan "menunggu". Menunggu malam, ketika malam datang maka berganti menunggu pagi. Menunggu lapar, ketika lapar maka makan sembari menunggu kenyang. Menunggumu, setelah kau datang, haruskah a...

3 Detik Menatap Arah Jam 6

Gambar
24/3/2015 Tanpa kurasakan terik, ku berjalan menuju keramaian. Keramaian yang sangat asing bagiku. Lama sudah ku tak memasuki pintu ini, dan menyaksikan kesibukan orang-orang lain. Walau aku juga tak yakin mereka benar-benar sibuk. Hanya wajah-wajah cemas dan senyum yang berat yang tergambar pada wajah setiap orang disini. Kulihat seorang teman berdiri berlindung didepan bangunan bertingkat. Berjalan perlahan ku kearahnya, basa-basi kecil bersautan dimulut kami. Tak lama saling bicara, ku buang pandanganku ke sisi lain disekitar keramaian.  Sampai saat dimana mataku terhenti disebuah titik koordinat. Biasa kita sebut arah jam 9. Sebuah magnet tersipu malu pada koordinat tadi.  Mataku menolak memandang, tapi hati ini tak kuasa menahan hisapan magnetik yang ada. Daya tarik magnetik yang tak terukur dan tak kasat mata. Kakiku kubawa menjauh dari tempatnya terbenam sedari tadi. Aku pun duduk dititik koordinat lain. Pemilik arah jam 9 pun beru...

Love GOD Love People

Gambar
11/03/2015 Menurutku, “orang yang membenci (tidak mengampuni dan tidak mengasihi) orang lain adalah orang yang bermasalah dengan dirinya sendiri”. Berangkat dari pendapat ini, aku selalu berusaha untuk mengampuni semua orang yang berbuat salah (baik sengaja/tidak, baik kesalahan besar/kecil). Sebelum itu tentu aku telah berjuang keras untuk mengampuni diri sendiri. Mengampuni masa laluku, mengampuni kelemahanku dan mengubahnya menjadi berkat dan rasa syukur. Mengampuni diri sendiri tidaklah mudah, bukan hanya dimulut. Mengampuni diri sendiri justru tak terucap, namun terlihat dari kedamaian hati dan cara memperlakukan orang lain. Karena ada pendapat juga bahwa cara kita memperlakukan orang lain adalah cerminan kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Berbuat baiklah kepada semua orang, jika memang ingin bertemu kebaikan juga. Mengampuni diri sendiri bukan hanya hubungan antara aku dan diriku. Tetapi lebih penting adalah hubungan antara aku dan Pencipta ku. Karena ketik...

Perubahan Membawa Perbedaan (Teladan Seorang Guru)

Gambar
05/03/2015 Sebuah bangunan sekolah mungil diujung bukit tampak siluet kala mentari merangkak naik. Terdengar celoteh dan nyanyian anak-anak yang memimpikan hari yang indah tadi malam.  Pepohonan yang mulai jarang dan tersisihkan pun turut menyambut mereka. Tak ada sebongkah awanpun tampak menganggu langit pagi itu. Senyum guru tercinta memikat mereka untuk berlari kencang untuk sekedar berjabat tangan dengannya. Seorang bapak Guru yang penuh kesederhanaan dan dekat dengan semua muridnya. Dekat dengan muridnya bukan berarti mengiyakan semua hal yang dilakukan muridnya baik yaang baik maupun yang buruk. Ia tetap tegas menegur hal buruk yang dilakukan muridnya dan konsisten memberikan teladan baik bagi muridnya. Itu terlihat dari cara muridnya berjabat tangan, melempar senyuman, dan sapa murah yang mereka berikan. Termasuk cara mereka bertanya ketika pelajaran yang diterimanya mengundang tanya. Tampak pula dari cara mereka mencatat setiap hal penting yang harus mereka...